Bu Farida Hayati: Segala Tindakan Kita Sebaiknya Bernilai Ibadah

Ketika ditemui pada 2 Maret lalu, perempuan setengah  baya dengan kerudung merah itu tengah sibuk menandatangani beberapa ruangan di ruangannya. Ia, Farida Hayati, Wakil Dekan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Indonesia (UII). Ketika selesai dengan dokumennya, ia dengan ramah menyambut dan senang hati berbagi kisah hidupnya.

Perempuan yang lahir di Semarang pada 22 Mei 1974 ini dikenal sebagai satu di antara dosen pertama sekaligus Kepala Prodi pertama Prodi Farmasi UI. Ia mengisahkan, dulu ketika Prodi Farmasi UII hendak dibangun dengan pelopornya Bu Suparmi, ia menjadi satu di antara enam dosen yang pertama direkrut. “Padahal ketika itu saya masih belum menyelesaikan studi master saya di Farmasi Universitas Gadjah Mada”, ujarnya. Setelah lulus master Bu Farida langsung diangkat menjadi Kaprodi dengan usia  yang terhitung muda yaitu 26 tahun pada 1999, “Memang sih saya merasa saat itu saya diangkat jadi Kaprodi karena tidak ada orang lain lagi selain saya,” katanya berkelakar.

Walaupun menjadi Kaprodi dengan usia yang muda, tak menyurutkan semangatnya untuk membangun Prodi UII yang baru saja lahir. Ia masih ingat, bagaimana dulu para mahasiswa yang menjadi angkatan pertama begitu bersemangat. “Ada perasaan bahwa kita ini angkatan pertama dan harus membuktikan bahwa Prodi Farmasi ini bisa diperhitungkan,” kenangnya. Berbagai kendala dihadapi Bu Farida ketika menjadi Kaprodi Farmasi, satu di antaranya meyakinkan pihak universitas dan fasilitas yang masih minim. Namun, berkat rasa optimisnya pengajar Farmakologi ini mampu melewati semua kendala itu dan perlahan Prodi Farmasi UII mendapatkan pengakuan, dari status terakreditasi, akreitadi C, hingga sekarang akreditasi B.

“Saya tidak pernah menyangka saya diarahkan untuk bekerja di UII, dan saya bersyukur karena di sini semua yang dikerjakan adalah bagian dari ibadah,

Sebagai istri dan ibu, Bu Farida Hayati tak pernah melupakan peran yang harus dipenuhinya. Bu Farida menikah ketika sudah setahun menjabat Kaprodi Farmasi, yaitu tahun 2000, dan lama kemudian melahirkan seorang anak. Sekalipun sering tenggelam dalam kesibukan proses membangun Prodi Farmasi UII, tapi Bu Farida selalu memberikan pengertian pada keluarganya bahwa kegiatannya bekerja adalah bagian dari ibadah.  Suaminya pun mendukung, dan oleh karena suaminya juga dosen, maka tahu betul dunia dan kesibukan istrinya. “Selain itu saya juga sangat bersyukur bekerja di sini (FMIPA UII), yang pengertian bahwa saya sedang repot. Apalagi ketika anak sakit, di tempat lain belum tentu,” terangnya.

Oleh karena itu, bagi Bu Farida Hayati bekerja di UII menjadi pengalaman yang paling berharga dalam hidupnya. Ia berkisah, dulu ia sama sekali tak pernah menyangka akan bekerja dan berkarier di UII. Dulu ia sama sekali tak mengenal UII, dan dulu ia tak sedang mencari kerja karena ia masih menempuh studi master. “Saya tidak pernah menyangka saya diarahkan untuk bekerja di UII, dan saya bersyukur karena di sini semua yang dikerjakan adalah bagian dari ibadah,” katanya. Hal demikian juga menjadi prinsip hidup Bu Farida, bagi pengajar yang sedang meneliti tentang kangkung sebagai pengobat diabetes ini, “Semua tindakan yang kita lakukan sebaiknya adalah untuk ibadah, walaupun memang proses untuk menyadari hal tersebut bisa saja lama”.

Menjadi orang yang sedari awal berproses dalam dunia farmasi, lalu membesarkan Prodi Farmasi UII dari awal, Bu Farida selalu berpesan kepada mahasiswanya, “Belajar farmasi itu sulit, maka niatkan sedari awal untuk tetap bertahan belajar farmasi atau tidak. Farmasi adalah ilmu yang sulit, jangan mempelajarinya karena paksaan.” Ia pun mengakhiri pertemuan hari itu dengan salam perpisahan yang tak kalah ramahnya dari awal pertemuan.

Pak Marno: Tak Menyangka Menjadi Laboran, Malah Membuahkan Pengabdian

Menumpuk pencapaian itu baik, namun bagi Pak Marno rasa ikhlas dan syukur adalah yang utama.

Pria setengah baya dengan kemeja lengan panjang berwarna biru gelap yang digulung hingga siku menjawab salam seraya keluar dari laboratorium Farmakologi Universitas Islam Indonesia (UII). Terlihat ia masih memengang sehelai tisu guna mengusap tangannya yang sehabis dibasuh air. Barangkali ia baru saja menyentuh beberapa bahan yang berbahaya di laboratorium. Ia Sumarna, seorang laborat yang ikut mengawal tumbuh kembang Prodi Farmasi UII. Mahasiswa dan karyawan lain biasa menyapanya dengan panggilan “Pak Marno. ”Sebelum istirahat makan siang hari itu (19/2) ia menyempatkan diri berbagi kisah hidupnya.

Lelaki kelahiran 29 Oktober 1964 di Sleman ini terhitung sudah 18 tahun mengabdikan diri di Prodi Farmasi UII, yaitu semenjak Prodi ini didirikan pada tahun ajaran 1998/1999 silam. Ia mulanya tak mengira akan menjadi seorang laborat. Pasalnya, ia sama sekali tak menjajaki pendidikan sebagai staf laboratorium. ia lulus dari sebuah Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA kini SMK) di Cangkringan, Sleman, dengan jurusan Tata Buku atau yang kini dikenal sebagai akuntansi. Selepas lulus ia bekerja di laboratorium Universitas Gadjah Mada (UGM) selama tiga setengah tahun. Di sana ia mempelajari kerja-kerja di laboratorium secara langsung, tanpa pernah menerima teori khusus.

Menjadi pekerja kontrak di laboratorium UGM, Pak Marno memperkirakan kurang ada peluang untuk berkembang. “Dulu saya lihat ada teman sudah lima belas tahun bekerja tapi belum juga diangkat sebagai pegawai tetap, padahal pekerja kontrak dan tetap bayarannya jauh sekali”, jelas Pak Marno. Maka, ketika Bu Farida Hayati yang saat itu sedang menggodok pembentukan Prodi Farmasi UII dan merekrut laborat, Pak Marno pun menawarkan diri. Pihak laboratorium UGM sempat melarangnya untukpindah, namun ia ahirnya berhasil pindah dengan mengajukan kemenakannya sendiri sebagai pengganti dirinya.

Pak Marno menjadi saksi perkembangan Prodi Farmasi UII, “Dulu gedung itu FMIPA UII disebut gedung TK, karena bentuknya seperti SD Inpres”, Pak Marno mengenang. Mengasuh laboratorium Farmakologi di Prodi Farmasi UII bagi Pak Marno bukan sekedar pekerjaan, ia merasa laboratorium dan mahasiwa yang melakukan penelitian sudah menjadi hal yang harus selalu ia perhatikan. “Rasanya khawatir kalau saya tidak masuk kerja”, aku Pak Marno. Buktinya, ketika Pak Marno mendapatkan menikah pada 2001 lalu selama satu pekan, ia selalu menyempatkan diri untuk ke laboratorium kecuali pada hari pesta pernikahnnya.

 “Saya ini kan istilahnya dalam Bahasa Jawa ‘babat alas’ gitu, banyak hal saya pelajari secara otodidak”

Tak sengaja berkarier dalam dunia laboratorium adalah pengalaman paling berpengaruh dalam hidup Pak Marno. “Sayakan istilahnya dalam Bahasa Jawa ‘babat alas’ gitu, banyak hal saya pelajari secara otodidak”.  Tak dinyana memang itu jalan takdir dan kecintaannya, sekalipun setelah 18 tahun ia menjadi laborat dan masih berstatus sebagai pegawai kontrak. Soal perkara ini ia bertutur, “Dulu pernah ada pengangkatan pegawai kontrak menjadi pegawai tetap, tapi umur saya sudah lewat dari yang dipersyaratkan”. Walaupun Pak Marno berhadarap dapat menjadi pegawai tetap, namun ia sudah mensyukuri apa yang peroleh hingga saat ini.

Tak putus langkah, pernah untuk menambah penghasilan Pak Marno berternak tikus khusus bahan uji coba laboratorium. Hasilnya lumayan, karena tikus khusus untuk percobaan laboratorium harganya lebih mahal, jika dikirim keluar Jawa harganya dua kali lipat. Namun Pak Marno belum kembali menggeluti usahanya itu lagi, karena bahan pakan tikus laboratorium terhitung mahal, setara pakan ayam ternak.

 “Kalau kita ramah pada mahasiswa, kan suasana di laboratorium jadi enak dan nyaman

Rasa ikhlas sudah menjadi tuntutan hidupnya, oleh karena itu Pak Marno dengan sukarela menawarkan diri untuk mengajari mahasiswa atau siapapun yang ingin belajar tentang hal-hal di laboratorium Farmakologi sekalipun di luar jam kerja. Atas dasar rasa ikhlas itu pula Pak Marno berpesan bagi pemuda yang ingin menjadi laborat agar bersikap ramah dan sabar pada mahasiswa di laboratorium. “Kalau kita ramah pada mahasiswa, kan suasana di laboratorium jadi enak dan nyaman,” tandasnya mengakhiri obrolan.

Mahasiswa Farmasi UII Kembali Mempublikasikan Karyanya pada Konferensi Internasional

Tri Senja Aprilia, Beta Barasila, beserta beberapa mahasiswa lainnya dan satu orang dosen Prodi Farmasi Universitas Islam Indonesia (UII) tengah mempersiapkan diri untuk presentasi pada3rd Green & Sustainable Chemistry Conference  yang akan dilaksanakan di Jerman pada Mei 2018. Delapan paper penelitian berhasil lolos dalam konferensi tersebut. Mahasiswa Prodi Farmasi Universitas Islam Indonesia (UII) tersebut mengusung judul naskah penelitian skripsi mereka yang meneliti partikel nano dari emas yang diformulasikan dengan tanaman asli Indonesia sebagai pengobatan penyakit kanker. Tri senja misalnya, yang memformulasikan partikel nano dari emas dengan ekstrak tanaman ubi kayu.

Berikut judul-judul penelitian tersebut:

  1. Yosse Kurnia Priandanu, Ika Putri Syawalani, Tesha Paramitha, Green synthesis of Gold Nanoparticle queous Extract of Ant Nest (MymecodiaArmta DC) with An Eco-Friendly Method.
  2. Apreza Triana, Ines Widyarani, Preparation and Characterization of Gold Nanoparticles Leaf Extract of Matoa (PometiaPinanta) with an Evironmentally Friendly Biosyntetic Process”.
  3. Satria Dwi Setiawan, Cempaka Chintya Ramadhani, AgusthaVeronika,
  4. Tri SenjaAprilia, “Comparison Preparation Method of Gold Nenoparticles Cassava Between Using Biosynthesis High Energy and Biosynthesis”.
  5. Beta Barasila Nirma Handalis, Preparation and Characterization of Gold Nanoparticles Cassava Leaf (ManihotEscullenta) with Hight Energy Beiosynthesis Process
  6. Setya Dewi Wulandari, comparation between Biosynthesys Process of Gold Nanoparticles Rutin Trihydrate Between PVa 2,5% snd PVA 5%.
  7. Muhammad Farid Aditya, Preparation and Characterization of Gold Nanoparticles Bawang Tiwai Bulb (ElutherinePalmifolia L.) with an Evironmentally Friendly Biosyntetic Process”.

Publikasi pada konferensi internasional tersebut sebaga isyarat mengikuti Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) 2018. Sebagai mana dikatakan Beta, “Untuk mengikuti Pimnas diperlukan hak paten dan publikasi internasional”. Setelah syarat itu terpenuhi, proposal penelitian mereka akan diseleksi ditingkat universitas lalu akhirnya pada tingkat internasional.

Sebelumnya mereka juga sudah pernah lolos Pimnas, walaupun belum juara, dengan penelitian mereka yang menghasilkan serum anti penuaan dini dari tauge yang juga menggunakan teknologi partikel nano. Penelitian tersebut sudah dipresentasikan pada konferensi tingkat Asean di Malaysia tahun lalu. Tri Senja bercerita, banyak pengunjung stand penelitian mereka yang tidak menyangka bahwa tauge dapat dijadikan bahan serum anti-aging. “Padahal tauge mengandung Vitamin E yang sudah banyak dikenal sangat bermanfaat bagi kulit”, tambah Beta.

Beta dan Tri Senja mengakui bahwa penelitian mereka dapat berjalan lancer karena fasilitas di laboratorium Prodi FarmasiUII  yangmemadai. “Alat disediakan, bahan disediakan, teknlogi laboratorium pun sudah mencukupi:, terang Tri Senja. Seperti laboratorium nano partikel yang memungkinkan mahasiswa menghasilkan produk yang lebih efektif khasiatnya daripada partikel mikro.

Namun, mereka masih melihat adanya kekurangan dalam sosialisasi tentang publikasi ilmiah. Sebelum 2017, lama sekali Prodi Farmasi UII tidak lolos Pimnas, terakhir pada 2004. Oleh karena itu, Beta dan Tri Senja beserta satu orang teman lainnya menginisiasi suatu klub yang dinamakan Pharmacy Research Club (PRC). PRC adalah tempat mahasiswa Prodi Farmasi UII berbagi informasi segala sesuatu tentang penelitian ilmiah terutama bagi mahasiswa tingkat awal yang berminat mengikuti Pimnas.  Tak hanya dari mahasiswa yang pernah lolos Pimnas tapi juga dari dosen yang menjadi juri Pimnas. Hasilnya, ‘Tahun ini banyak sekali (mahasiswa Prodi Farmasi) yang mengajukan proposal penelitiannya ke Pimnas, dan banyakjuga yang lolos”, terang Tri Senja.

Empat Situs Gratis yang Memberikan Informasi tentang Obat-Obatan Pada Pasien

Satu di antara cara menghindari pengunaan obat-obatan yang tidak tepat atau bahkan ilegal adalah dengan memperoleh informasi tentang obat-obatan tersebut. Sumber informasi yang paling dapat diharapkan tentu saja apoteker dan petugas kesehatan lain yang mempunyai kapasitas penyampaian informasi tentang obat. Namun, karena satu dan lain hal informasi tentang obat-obatan tak dihiraukan pasien atau tak tersampaikan dengan baik.

Pada zaman digital kini mendapat informasi tentang obat-obatan tak sesulit dulu, tersedia situs dan aplikasi yang memberikan informasi komprehensif tentang obat yang pasien ingin ketahui seluk-beluknya. Berikut empat situs tak berbayar tapi terpercaya yang membatu pasien memperoleh informasi tentang obat-obatan:

  1. healthychildren.org

Situs ini terafiliasi dengan American Acedemy of Pediatrics dan situs ini dapat menjadi rujukan bagi orang tua dalam menyediakan obat bagi anak. Situs ini memuat berita-berita terkini tentang obat-obatan, seperti rekomendasi vaksin, fakta-fakta tentang kandungan nutrisi dalam makanan, dan informasi kesehatan untuk tingkatan usia yang berbeda dari bayi hingga remaja. Selain itu, situs ini juga menyediakan saran dan rekomdasi perawatan untuk berbagai penyakit seperti demam, diare, mual muntah, dan batuk flu.

  1. consumermedsafety.org

Situs satu ini terhubung dengan Institute for Safe Medicatiob Practice. Situs ini adalah one-stop-shop untuk informasi ekselamatan pengobatan pasien. Sumber informasi tersebut berupa artikel, info terbaru dari FDA (US Food and Drugs Administration), dan tata cara melaporkan kesalahan pengobatan yang dialami pasien. Personalisasi pengobatan terbaru adalah satu di antara hal terbaik yang disediakan situs ini, membuat pasien mendapatkan peringatan tentang keamanan obat yang pasien gunakan. Peringatan tersebut meliputi tingkat keamanan, interaksi antarobat, dan efek samping.

  1. National Institute on Aging

Pemerintah Amerika Serikat mempunyai situs ini dan terafiliasi dengan National Institutes of Health. Konsumen dapat meriset informasi dalam berbagai topik tentang penyakit dan obat-obatan, seperti gejala Alzaimer, depsi, menopause, dan kesehatan cardiovascular. Topik lain yang juga disediakan adalah tentang makanan sehat, olah raga, dan pencegahan hipotermia. Pasien juga dapat mencari informasi dengan mengikuti percobaan klinis. Terdapat banyak pula sumber yang dapat dipesan atau diunduh.

  1. knowyourdose.org

Situs ini terafiliasi dengan Acetaminophen Awarness Coalition, dan menyediakan edukasi untuk konsumen tentang keamaan penggunaan produk yang mengandung acetaminophen. Acetaminophen terkandung dalam lebih dari 600 pengobatan. Edukasi konsumen sangat penting dalam penggunaan acetaminophen agar terhindar dari efek buruk dari kandungan tersebut seperti kelebihan dosis misalnya. Situs ini juga menyediakan gim interaktif di mana seseorang dapat memilih karakter dan menguji pengetahuannya tentang acetaminophen. Situs ini mengajarkan konsumen untuk membaca petunjuk penggunaan terlebih dahulu sebalum menggunakan suatu obat. Ada banyak sumber untuk menjamin keamaan penggunaan acetaminophen pada anak-anak, seperti tingkaatn dosis sesuai usia. Konsumen dan apoteker juga dapt memesan peralatan edukasi acetaminophen secara gratis.

Sumber:

“4 Free Online Drug Information Resources for Your Patients” Pharmacytimes.com 31 Januari 2018

“Amazon Effect” pada Masa Depan Toko Obat

Keinginan ritel daring besar Amazon untuk merambah bidang kefarmasian memang sudah lama terdengar atau tepatnya Mei 2017, tetapi hal tersebut kemungkinan akan dilaksanakan pada tahun ini. Beberapa media di Amerika Serikat menberitakan bahwa supermarket yang menjual produk obat-obatan siap mengumumkan kebangkrutannya. Supermarket seperti Winn Dixie yang dibawah manajemen Bi-Lo tengah menyiapkan rencana penutupan 200 supermarketnya pada Maret ini.

Bi-Lo untuk pertama kalinya mengalami menghadapi kebangkrutan, walaupun sebelumnya pernah melewati krisi moneter 2005 dan 2009. Bi-Lo dikabarkan memiliki hutang hingga 1 milyar dolar AS. Padahal pada Juni 2017 Bi-Lo dikabarkan memiliki 495 toko di Florida, alabama, Louisiana, Georgia, dan Mississipi. Pada Mei 2017 Winn Dixie memperkerjakan lebih dari 38,000 karyawan yang melayani konsumen pada setidaknya 500 supermarket, 150 toko minuman beralkohol, dan 280 apoteke.Berbeda dengan Winn Dixie, Tops Friendly masih mencoba berencana mencari perlindungan dari kreditur untuk menyelamatkan supermarketnya.

Laporan Bloomberg menerangkan bahwa kebangkrutan dua supermarket ini berkaitan dengan keberadaan laman Amazon. Bisnis super market memang diakui adalah lahan bisnis yang berisiko tinggi. Margin keuntungan yang rendah dan ketatnya persaingan menjadi tantangan utama. Keberadaan Amazon dan akuisisinya terhadap Whole Foods mendorong para pengusaha super market untuk mencari cara baru agar dapat bertahan.

Tak terkecuali dengan bisnis apotek, karena dari tahun lalu Amazon mulai serius untuk melancarkan maksudnya berbisnis obat-obatan. Bahkan dari beberapa pertemuannya Amazon sudah hendak merekrut general manager untuk bisnis ini. Pembahasan utama lain dalam pertemuan-pertemuan petinggi Amazon adalah tren konsumen yang membayar untuk layanan kesehatan, tapi Amazon siap untuk memberikan pelayanan yang lebih maju.

Para ahli berspekulasi ada jutaan kesempatan pasar bagi Amazon. Di Amerika Serikan saja lebih dari 4 milyar Dolar AS resep dipesan setiap tahunnya. Pada 2015, pengeluaran untuk resep obat diestimasikan sebesar 300 milyar Dolar AS. Amazon pada beberapa tahun terakhir sudah mendapatkan persetujuan regulasi berupa 12 lisensi distributor besar negeri. Lisensi ini lebih jauh dapat melancarkan langkahnya untuk berbisnis pada dunia farmasi. Walaupun bukan lisensi farmasi sungguhan, tapi hal ini menjadi pertanda bahwa Amazon akan menjadi bagian dalam mata rantai suplai obat-obatan.

Amazon Efect, para ahli menyebut penutupan retail-retail konvensional secara perlahan. Tak hanya pekerja Winn Dixie dan Tops Stores yang terkenal dampak Amazon Efect, pekerja retail obat pun demikian. Seiring dengan Amazon  yang semakin gencar berbisnis dalm bidang farmasi, apoteker independen diharuskan bekerja lebih keras. Ketika Amazon dapat menawarkan pelayanan yang lebih murah, seorang apoteker dapat memberi pelayanan yang ramah, interaksi secara langsung dan konseling pasien yang mungkin lebih berharga bagi pasien. Hal demikian tentu tak dapat diberikan Amazon, hanya apoteker lokal yang dapat melakukannya.
Sumber: pharmacytimes.com

Nama-Nama Obat yang Sulit Diucapkan

Pasien mungkin kesulitan mengeja generik atau nama paten dari obat, namun bukan hanya pasien yang mengalami kesulitan itu.

Lembaga pengawas obat dan makanan Amerika Serikat, FDA (Food and Drugs Administration), mengakui bahwa sulit bagi seorang apoteker untuk tetap mengikuti informasi terkini tentang cara pengucapan nama obat-obatan. Berikut beberapa nama pengobatan yang memerlukan latihan khusus dalam pengucapan namanya:

  1. CART-T Therapies: Tisagenlecleucel and Axicabtagene Ciloucel

pada Agustus 2017, FDA menyetujuiTisagenlecleucel (Kymriah) sebagai pengobatan yang dapat digunakan oleh pediatris dan bagi pasien muda dengan lymphoblastic leukemia akut. Tiga bulan kemudian, Axicabtagene Ciloucel (Yescarta) disetujui untuk mengobati pasien dewasa dengan B-cell lymphoma tertentuyang tak merespon pada dua macam pengobatan. Kymriah dan Yescarta menjadi pengobatan pertama dalam terapi gen CAR-T yang melibatkan teknik sel imunitas pasien sebagai pengobatan kanker.

Pengucapan:

Tisagenlecleucel (tis a jen lek LOO sel)

Axicabtagene ciloleucel (ax i CAB tay jeen sye LO loo sel)

  1. Obiltoxaximab
    Obiltoxaximab (Anthim) adalah antibodi monoclonal yang diindikasikan untuk pasien dewasa dan anak-anak yang menghirup anthrax. Obat ini juga dikenal sebagai pencegah pengirupan anthrax ketika terapi alternatif tak tersedia atau tak efektif. Oleh karena uji klinis penghirupan anthrax terhadap manusia dianggap tak etis, maka efisiensi dari Obiltoxaximab diujicobakan pada kelinci.

Pengucapan:

Obiltoxaximab (oh bil tox AX i mab)

  1. Ixekizumab dan guselkumab

Ixekizumab (Taltz) dan guselkumab (Tremfya) adalah agen autoimun yang telah disetujui selama ebebrapa tahun terakhir untuk perawatan plaque psoriasis. Ixekizumab bertindak untuk melawan interleukin-17A. Sementara guselkumab adalah penghambat interleukin-23.

Pengucapan:
Ixekizumab (ix ee KIZ ue mab)

Guselkumab (gue sel KOO mab)

  1. Hexaminolevulinate
    Hexaminolevulinate (Cysview) adalah obat pencitraan optik yang digunakan dengan sinar biru cystoscopy untuk meningkatkan deteksi terhadap tumor pada kandung kemih, terutama carcinoma in situ. Obat ini dikenal memiliki manfaat lebih banyak dari sinar putih cystoscopy, sehingga dapat memperjelas luka yang mungkin tak terlihat. Hexaminolevulinate sebenarnya bukan sebuah pengobatan yang mungkin mayoritas penggiat farmasi akan lakukan atau temui, namun walau bagaimanapun perlu latihan mulut untuk mengucapkan pengobatan ini.

Pengucapan:

Hexaminolevulinate (hex a mee noe LEV ue lin ate)

  1. Glecaprevir & pibrentasvir

pada Agustus 2017 FDA mengyetujui AbbVie’s Mavyret, sebagai dosis yang tepat yang mengombinasikan antara glecaprevir, sebuah pencegah HCV NS3/4A, untuk perawatan pasien dewasa dengan infeksi HCV genotype 1, 2, 3, 4, 5, atau 6, tanap sirosisi atau sirosis ringan. Dengan persetujuan ini Mavyret menjadi perwatan antikuman yang disetujui berdurasi selama delapan minggu untuk semua HCV.

Pengucapan:

Glecaprevir & pibrentasvir (glek A pre vir & pi BRENT as vir)

  1. Sebelipase alfa and taliglucerase alfa

Sebelipase alfa (Kanuma) adalah bentuk rekombinan dari enzim lysosomal acid lipase (LAL). Obat ini disetujui pada Desember 2015, dan menjadi yang pertama dan satu-satunya perawtaan yang disetujui FDA untuk kekurangan lysosomal acid lipase, sebuah kelainan langka yang diawlaami 1 dari 500.000 kelahiran. Taliglucerase alfa (Elelyso) adalah pengganti dari terapi lyosomal enzyme, walau bagaimanapun perwatan ini diindikasikan untuk perwatan pasien yang telah terkonfimasi didiagnosis menderita penyakit Gaucher Tipe 1.

Pengucapan:
Sebelipase alfa (se be LYE pase AL fa)

Taliglucerase Alfa (tal i GLOO ser ase AL fa)

  1. Ipilimumab
    Ipilimumab (Yervoy) adalah antibodi monoklonal yang bekerja untuk mengaktifkan sitem imun dengan mencegah CTLA-4. Obat ini diindikasikan untuk perawatan tumor yang tak dapat diangkat atau unresectable/metastatic melanoma dan untukcutaneousmelanoma. Obat ini diberikan kepada pasien sebagai infus dosis tinggi (weight-based dose infusion) setiap 3 minggu selama 4 total dosis untuk unresectable/metastatic melanomadan hingga 3 tahun untuk

Pengucapan:

Ipilimumab (ip i LIM u mab)

  1. Nabumetone
    Nabumetone (Relafen) adalah antiperadagangan nonsteroid atau nonsteroidal anti-inflammatory drug (NSAID). Obat ini telah digunakan sejak 2000 untuk merawat rasa sakit dan peradangan. Nabumetone tidak terlihat seperti obat yang memiliki nama yang sulit diucapkan, namun banyak orang yang tertukar menyebut ‘m’ dan ‘b’ dalam kata itu.

Pengucapan:
Nabumetone (na BYOO me tone)

Sumber: pharmacytimes.com

Bahan Kimia Obat dalam Obat Tradisional dan Efek Sampingnya

Obat tradisonal dengan klaim kealamiannya sudah barang tentu tak boleh mengandung Bahan Kimia Obat (BKO). Namun, hingga saat ini Badan POM masih menemukan beberapa produk obat tradisional yang didalamnya dicampuri bahan kimia obat BKO di dalam obat tradisional inilah yang menjadi selling point bagi produsen Hal ini kemungkinan disebabkan kurangnya pengetahuan produsen akan bahaya mengkonsumsi bahan kimia obat secara tidak terkontrol baik dosis maupun cara penggunaannya atau bahkan semata-mata demi meningkatkan penjualan karena konsumen menyukai produk obat tradisional yang bereaksi cepat pada tubuh.

Temuan BPOM memperlihatkan BKO yang terdapat dalam obat tradisonal di antaranya:

Klaim kegunaan Obat tradisional BKO yang sering ditambahkan
Pegal linu / encok / rematik : Fenilbutason, antalgin, diklofenak sodium, piroksikam, parasetamol, prednison, atau deksametason
Pelangsing : Sibutramin hidroklorida
Peningkat stamina / obat kuat pria : Sildenafil Sitrat
Kencing manis / diabetes : Glibenklamid
Sesak nafas / asma : Teofilin

BKO yang sering dicampurkan ke dalam obat tradisional tanpa dosis dan takaran yang jelas dapat menimbulkan efek samping sebagai berikut:

  1. Antalgin (Metampiron)
    Efek samping: Pada pemakaian jangka panjang dapat menimbulkan agranulositosis.
  2. Deksametason
    Efek Samping:

    • Glukokortikoid meliputi diabetes dan osteoporosis yang berbahaya bagi usia lanjut. Dapat terjadi gangguan mental, euphoria dan myopagh. Pada anak-anak kortikosteroid dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan, sedangkan pada wanita hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan adrenal anak.
    • Mineralokortikoid adalah hipertensi, pretensi Natrium dan cairan serta hypokalemia.
  3. Prednison
    Efek samping:

    • Gejala saluran cerna : mual, cegukan, dyspepsia, tukak peptic, perut kembang, pancreatitis akut, tukak oesofagus, candidiasis.
    • Gejala musculoskeletal : miopatiproximal, osteoporosis, osteonekrosis avaskuler.
    • Gejala endokrin : gangguan haid, gangguan keseimbangan Nitrogen dan kalsium, kepekaan terhadap dan beratnya infeksi bertambah.
    • Gejala neuropsikiatri : euphoria, ketergantungan psikis, depresi, insomnia, psikosis, memberatnya shizoprenia dan epilepsy.
    • Gejala pada mata : glaucoma, penipisan kornea dan sclera, kambuhnya infeksi virus atau jamur di mata.
    • Gejala lainnya : gangguan penyembuhan, atrofi kulit, lebam, acne, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, leukositosis, reaksi hipersensitif (termasuk anafilaksis), tromboemboli, lesu.
  4. Teofilin
    Efek samping: Takikardia, palpitasi, mual, gangguan saluran cerna, sakit kepala, insomnia dan aritmia.
  5. Hidroklortiazid (HCT)
    Efek samping: Hipotensi postural dan gangguan saluran cerna yang ringan, impotensi (reversible bila obat dihentikan), hipokalimia, hipomagnesemia, hipoatremia, hiperkalsemia, alkalosis, hipokloremik, hiperurisemia, pirai, hiperglikemia dan peningkat kadar kolesterol plasma.
  6. Furosemid
    Efek samping : Hiponatremia, hipokalemia, hipomagnesia, alkalosis, hipokloremik, ekskresi kalsium meningkat, hipotensi, gangguan saluran cerna, hiperurisemia, pirai, hiperglikemia, kadar kolesterol dan trigliserida plasma meningkat sementara
  7. Glibenklamid
    Efek samping :

    • Umumnya ringan dan frekuensinya rendah diantaranya gejala saluran cerna dan sakit kepala.M
    • Gejala hematology trombositopeni dan agranulositosis.
  8. Siproheptadin
    Efek samping : Mual, muntah, mulut kering, diare, anemia hemolitik, leukopenia, agranulositosis dan trombositopenia.
  9. Chlorpeniramin maleat (CTM)
    Efek samping : Sedasi, gangguan saluran cerna, efek anti muskarinik, hipotensi, kelemahan otot, tinitus, euphoria, nyeri kepala, stimulasi SSP, reaksi alergi dankelainan darah.
  10. Parasetamol
    Efek samping : Jarang, kecuali ruam kulit, kelainan darah, pankreatitis akut dan kerusakan hati setelah over dosis.
  11. Diclofenac sodium
    Efek samping :

    • Gangguan terhadap lambung, sakit kepala, gugup, kulit kemerahan, bengkak, depresi, ngantuk tapi tidak bias tidur, pandangan kabur, gangguan mata, tinitus, pruritus.
    • Untuk hipersensitif : menimbulkan gangguan ginjal, gangguan darah.
  12. Sildenafil Sitrat
    Efek samping : Dyspepsia, sakit kepala, flushing, pusing, gangguan penglihatan, kongesti hidung, priapisme dan jantung.
  13. Sibutramin Hidroklorida
    Efek samping: Dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung serta sulit tidur.

Apoteker UII Bicara Kasus Penarikan Albothyl

Penarikan Albothyl dari pasaran memunculkan keresahan konsumen, namun hal demikian adalah proses penguplan data ekektivitas dan keamaan obat secara riil.

Per 3 Januari silam, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan surat rekomendasi hasil rapat kajian keamanan pascapemaasaran kepada PT. Pharos Indonesia. Surat tersebut merekomendasikan kepada PT. Pharos untuk menarik satu di antara produknya dari pasaran yaitu Albothyl.  Albothyl baru diketahui dapat membahayakan konsumen lantaran policresulen dalam bentuk sediaan obat luar konsentrat 36%ternyata tak didukung bukti ilmiah dapat menyembuhkan sariawan. Selain itu, policresulen dalam bentuk sediaan obat luar konsentrat 36% membahayakan bila digunakan langsung tanpa pengenceran terlebih dahulu.

Albothyl selain sebagai obat sariawan selama ini juga dikenal sebagai antiseptik yang digunakan pada daerah vagina,l dan untuk proses pembedahan. Penarikan obat bebas terbatas ni mengagetkan masyarakat karena Albothyl sudah banyak digunakan dan dipercaya mampu menyembuhkan sariawan. Akan tetapi, BPOM selama dua tahun terakhir menerima laporan dari profesional kesehatan yang menangani pasien dengan iritasi dan chemical burn pada mucosa oral karena penggunaan Albothyl yang akibatnya sariawan justru semakin parah.

Konsumen yang diwakili oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyayangkan kejadian ini. BPOM dinilai lalai dalam melindungi hak konsumen untuk mendapatkan jaminan kemanaan akan obat yang konsumen gunakan. YLKI menyangsikan pemberian ixzin edar kepada obat-obatan yang kemudian hari dinyatakan berbahaya. Akan tetapi, berkaitan dengan hal ini, Fitrah Romadhonsyah, seorang apoteker di UNISIA Polifarma memaparkan bahwa, kasus temuan bahan berbahaya dalam Abothyl adalah hal yang bisa saja terjadi walaupun obat tersebut sudah diberikan izin edar.

Lelaki lulusan Prodi Farmasi Universitas Islam Indonesia (UII) dan Program Profesi Apoteker UII itu menjelaskan, dalam dunia kefarmasian obat dapat dipasarkan bila sudah melawati uji praklinis (efektivitas dan keamanaan pada hewan) dan uji klinis (efektivitas dan keamanaan pada manusia). Uji klinis memiliki empat tahapan, dan tahap yang terakhir adalah post marketing surveillance, yaitu pemantauan efektivitas dan keamaan suati obat ketika sudah dipasarkan pada masyarakat.

 “Sedangkan pada tahap keempat atau post marketing surveillance, uji klinis obat pada populasi manusia yang lebih besar, sehingga membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan fakta tentang efektivitas dan keamaan obat tersebut,”

Kasus Albothyl dengan policresulen konsentrat 36% adalah satu di antara contohnya. Proses post marketing surveillancememang membutuhkan waktu lama, bisa 5 hingga 10 tahun  bahkan lebih. Hal demikian karena pada tahan 1 hingga 3 pada uji klinis efektivitas dan keamanan obat terbatas pada beberapa orang. “Sedangkan pada tahap keempat atau post marketing surveillance,uji klinis obat pada populasi manusia yang lebih besar, sehingga membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan fakta tentang efektivitas dan keamaan obat tersebut,” papar Fitrah.

Memang seolah obat yang dipasarkan ternyata masih dalam tahap pengujian, namun, Fitrah berpesan bahwa tak perlu kawatir menyikapi adanya kasus obat yang ditarik dari pasaran. Hal yang dapat dilakukan konsumen adalah waspada terhadap obat-obatan yang dipasarkan. Jika menemui masalah keamanan suatu obat, konsumen dapat melaporkannya pada BPOM melalui aplikasi e-MESO (Monitoring Efek Samping Obat). “Rekan apoteker juga dapat berperan aktif dalam pelaporan masalah kemanan suatu obat melalui aplikasi e-MESO tersebut,” tutur Fitrah.

“Sikapi penarikan obat dari pasaran secara dewasa, jangan menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya yang akan merugikan banyak pihak,”

Konsumen pun tak perlu risau dnegan hilangnya policresulen konsentrat 36% dari pasaran, pemerintah sudah memberikan alternatif untuk pengobatan sariawan. Konsumen dapat menggunakan obat yang mengandung benzydamine HCL, povidone iodine 1%, atau kombinasi dequalium chloride dan vitamin C. “Sikapi penarikan obat dari pasaran secara dewasa, jangan menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya yang akan merugikan banyak pihak,” fitrah berpesan.

Yakin Obat Herbal atau Jamu yang Anda Konsumsi Aman?

Klaim ilmiah pada kemasan obat  herbal atau jamu pada beberapa merk tak menjamin kealamian dan keamanannya.

Wakidi malam itu merasa seluruh badannya pegal-pegal ngilu tak berkesudahan.  Sehabis bekerja seharian sebagai kuli bangunan di berbagai proyek bangunan gedung di area Yogyakarta, ingin rasanya ia memanggil tukang pijat untuk dirajah tubuhnya lalu tidur pulas hingga pagi. Namun urung, ia memutuskan untuk minum jamu saja. Ia percaya pada obat-obatan tradisional itu secara cepat dapat menyembuhkan pegal linunya, cesplengbegitu. Ia bergegas datang ke depot jamu di bilangan Jalan Laksda Adi Soetjipto, memesan jamu pegal linu, lantas si penjual jamu dengan tangkas membuatkan jamu pesanan Wakidi.

Wakidi adalah satu di antara konsumen obat tradisional yang percaya sepenuhnya bahwa kealamian jamu menjadi garansi keamanannya. Namun, tanpa disadari, beberapa merk obat herbal dan jamu mengandung bahan kimia obat yang dalam takaran tertentu berbaya. Bukannya menyembuhkan karena khasiat tanaman herbal, obat herbal dan jamu jenis ini malah kemungkinan mencelakakan. Beberapa bahan kimia berbahaya yang sudah ditemukan dalam jamu dan obat herbal yang yang pernah ditemukan Badan POM di antaranya paracetamol, fenilbutason, dan sildenafil (Antaranews.com 8 November 2013).

Menanggapi kasus penemuan Bahan Kimia Obat (BKO) dalam obat-obatan yang seharusnya herbal, Arde Toga Nugraha, Msc. Apt. seorang pengajar mata kuliah bahan alam di Prodi Farmasi Universitas Islam Indonesia mengatakan, “Jamu dan obat herbal ada bedanya. Jamu bisanya diseduh dan diminum langsung tapi obat herbal harus dilakukan pengolahan dulu, setidaknya diekstraksi. Nah, proses pengolahan ini seharusnya menggunakan air namun ada bahan tertentu yang tak adapat diekstraksi menggunakan air, maka menggunakan senyawa etanol. Hal demikian dapat dilakukan namun harusharus dilakukan terlebih dahulu bahwa kandungan etanolnya hilang sebelum dikonsumsi”.

 “Seharusnya jamu itu dibuat dengan dosis kecil dan harus diminum secara rutin. Jamu dibuat untuk menjaga tubuh tetap stabil, bukan untuk langsung menyembuhkan”

BKO dalam obat herbal menurut Arde biasanya yang banyak ditemukan adalah pada jamu pereda nyeri yang ditambahkan paracetamol ata dexamethasone. Hal menjadikan penambahan BKO pada obat herbal berbahaya adalah takaran yang tak tentu. Penambahan BKO tanpa dosis yang tepat dapat menimbulkan overdosis atau subdosis. “Kalau subdosis okelah, tapi kalau sudah overdosis yang berbahaya”, tegasArde.

Terjadinya penambahan BKO pada obat herbal tanpa takaran yang jelas menurut Arde dapat ditanggulangi jika berbagai lembaga bekerjasama, lembaga pemerintah dalam hal ini BPOM, pihak swasta, dan akademisi khususnya dalam bidang kesehatan. Arde berpendapat, selama ini pemerintah sudah cukup aktif memberantas obat-obatan yang diketahui berbahaya apabila tanpa resep dokter. Apalagi saat ini sudah diratifikasi udang-undang yang memungkinkan BPOM melakukan penindakan terhadap pelanggar izin edar obat-obatan.  Namun, dalam praktiknya menurut Arde masih kekurangan SDM, maka dari itu akademisi yang bergerak dalam bidang kesehatan harusnya dilibatkan.

“Mahasiswa farmasi misalnya, dapat turut serta mengawasi peredaran obat herbal yang ternyata berbahaya sekaligus sebagai bahan penelitian skripsi”, Arde menyarankan. Dapat dimulai dengan lingkungan terdekat dahulu, jika menemukan obat herbal atau jamu dengan bahan yang sekiranya berbahaya, dapat dibawa ke laboratorium sebagai sampel penelitian.

Masyarakat sebagai pasien pun harus lebih aktif melakukan pengecekan sebelum mengonsumsi obat-obatan herbal dan jamu. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengecek nomor registrasi obat pada situs BPOM. Jika sudah terdaftar pada BPOM Arde menjelaskan, tidak mungkin kemanfaatannya dapat menyembuhkan segala penyakit seperti pada klaim kemasan. “Seharusnya jamu itu dibuat dengan dosis kecil dan harus diminum secara rutin. Jamu dibuat untuk menjaga tubuh tetap stabil, bukan untuk langsung menyembuhkan”  jelas Arde.

“Hal yang harus dipastikan terlebih dahulu dalam pembuatan obat adalah keamanannya, baru kemanfaatannya”, Arde mengakui bahwa dalam pembuatan obat herbal dan jamu memang terdapat banyak tantangan, oleh karena itu “Hal yang harus dipastikan terlebih dahulu dalam pembuatan obat adalah keamanannya, baru kemanfaatannya”, tandasArde.

Istilah-Istilah dalam Farmakognosi

 

Alam memberikan kepada kita bahan alam darat dan laut berupa tumbuhan, hewan dan mineral yang jika diadakan identifikasi dan menentukan sistematikanya, maka diperoleh bahan alam berkhasiat obat.

Jika bahan alam yang berkhasiat obat ini dikoleksi, dikeringkan, diolah, diawetkan dan disimpan, akan diperoleh bahan yang siap pakai atau yang disebut dengan simplisia. Farmakognosi merupakan salah satu ilmu yang mempelajari tentang bagian-bagian tanaman atau hewan yang dapat digunakan sebagai obat alami yang telah melewati berbagai macam uji seperti uji farmakodinamik, uji toksikologi dan uji biofarmasetika.

 

Farmakognosi adalah sebagai bagian biofarmasi, biokimia dan kimia sintesa, sehingga ruang lingkupnya menjadi luas seperti yang diuraikan dalam definisi Fluckiger. Sedangkan di Indonesia saat ini untuk praktikum Farmakognosi hanya meliputi segi pengamatan makroskopis, mikroskopis dan organoleptis yang seharusnya juga mencakup indentifikasi, isolasi dan pemurnian setiap zat yang terkandung dalam simplisia dan bila perlu penyelidikan dilanjutkan ke arah sintesa.

Beberapa istilah dalam pelajaran farmakognosi antara lain:

  1. Simplisia : adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan.
  2. Eksudat tanaman : Adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau isi sel dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya, atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia murni.
  3. Alkaloida : adalah suatu basa organik yang mengandung unsur Nitrogen (N) pada umumnya berasal dari tanaman, yang mempunyai efek fisiologis kuat/keras terhadap manusia.
  4. Enzim : Adalah suatu biokatalisator yaitu senyawa atau zat yang berfungsi mempercepat reaksi biokimia / metabolisme dalam tubuh organisme.
  5. Pemerian : Adalah uraian tentang bentuk, bau, rasa, warna simplisia, jadi merupakan informasi yang diperlukan pada pengamatan terhadap simplisia nabati yang berupa bagian tanaman (kulit, daun, akar, dan sebagainya).

 

Lebih spesifik, berikut beberapa contoh istilah yang berhubungan dengan simplisia dan penyaki di antaranya:

1.      Stomakika Memacu enzim – enzim pencernaan
2.      Anti piretika Menurunkan suhu badan
3.      Cardiotonika Untuk penguat kerja jantung
4.      Ekspetoransia Mengurangi  batuk berdahak
5.      Diaforetika Sudorifika Memperbanyak keluarnya keringat/peluruh keringat
6.      Litotriptika Menghancurkan batu pada kandung kemih
7.      Sedativa Obat penenang
8.      Trikhomoniasis Penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur yang hidup di atas kulit (dermatofyt), jamurnya adalah Trichofyton

 

Sumber:

belajar-farmasi.blogspot.com/p/kamus-farmakognosi.html

muhammad-mahdhun.blogspot.com/stilah-istilah-farmakognosi